About nuri

Hi, i am Nuri. Just another IT guy working on fintech and telco at Jakarta, Indonesia. While tech stuff became my daily breakfast, i also love to travel around the globe and taking photos also. I DJ on my spare time while dealing with any mess my 9 cats made at home :)

Kereta api …..

Naik kereta api, Tut.. Tut.. Tut.. Siapa hendak turut?
Ke Bandung, Surabaya.. bolehlah naik dengan naik percuma..
Ayo kawanku lekas naik.. keretaku tak berhenti lama

Itu lagu anak-anak yang cukup ngetren sewaktu saya masih TK. Kayanya seru dan nyaman banget yah naek kereta api itu? Hehehehehe, emang seru. Gimana tidak, di kereta api kamu bisa ketemu berbagai hal, mulai dari cewek cakep teman seperjalanan satu kereta sampe dengan kambing kalo kamu sedang beruntung 🙂 Belum lagi para aktivis copet, jambret, penodong hingga anak-anak sekolah yang ekstra kurikuler magang jadi preman dalam gerbong kereta.

Buset, gimana mo aman kalo begitu ?
Well disitu serunya, jangan pernah mengharap rasa aman dan nyaman kalo menggunakan transportasi publik di Indonesia, pa lagi yang kelas ekonomi. Never.
Kenyamanan dan keamanan adalah hal yang amat sangat langka. Jadi cukuplah berharap kamu sampai ditujuan dengan selamat, kalo bisa ontime tanpa kehilangan apapun itu adalah megabonus yang bisa kamu dapatkan.

Itu baru di dalam gerbong kereta. Infrastrukturnya sendiri pun sudah tidak menjamin. Jalur kereta banyak yang berada di tengah perkampungan padat. Belum lagi rel kereta masuk jalur banjir seperti di Semarang. Jadi naek kereta jalur pantura Jakarta-Surabaya ga ada salahnya kalo kamu bawa pelampung juga. Yah karena sepertinya yang berwenang untuk urusan ini lebih senang meneruskan jalur kereta yang dirintis sejak jaman Belanda daripada berinovasi banyak untuk membuat jalur yang lebih save. Inivestasi mahal? Jelas, kalo mo murah pake ajah gerobak. Tapi duit investasi kalo “dibelanjakan” dengan benar sesuai dgn seharusnya pasti ga akan kerasa mahal kan? Ah soal mahalnya biaya “belanja-belanja” ini sudah menjadi pengetahuan dasar wajib di negara ini. Sayangnya para pejabat pintar itu terlalu pintar untuk bekerja. Saking pintarnya berteori mereka sampa ga tau harus mengerjakan apa untuk mewujudkan teori itu ?

And it happen again. Satu bukti lagi betapa carut marutnya perkereta apian di Indonesia ini.
Tanggal 14 April 2006, terjadi tabrakan kereta api di Serdang Bedagai, Sumatra Utara. 2 tewas
Tanggal 15 April 2006, KA Sembrani (kereta eksekutif neh) nyeruduk KA Kertajaya (kereta ekonomi) di Purwodadi, Jawa Tengah. Sedikitnya 13 orang tewas.

Kecelakaan kereta terjad nyaris tiap tahun dan sepertinya tidak ada improvement yang berarti untuk itu. Kecuali improvement penambahan jumlah kecelakaan kali. Bintaro ajah paling tidak sudah terjadi 2 kecelakaan besar. Tahun 1987 dengan korban sekitar 100 orang tewas (sampe diangkat jadi film Tragedi Bintaro) dan tahun 2004 (bisa jadi Tragedi Bintaro II tuh kalo perfilman nasional secerah dulu). Masih deket2 bintaro, awal maret tahun ini di Kebayoran Lama, ada atap kereta ambruk dan tiang penyangga kabel listrik rubuh. Atap kereta sampe rubuh? Kaya atap SD ajah..

Kalo mo flashback … hmm. Tahun 2001 yang sangat heboh waktu KA Empu Jaya dari Jakarta neruduk KA Gaya Baru Selatan Malam dari Surabaya. 30 orang tewas

Dan kalau sudah begini, para kambing hitamlah yang diajukan ke meja sidang. Orang pinter ga mungkin salah toh ? Jadi para pelayan masyarakat sesungguhnya seperti penjaga pintu lintasan, masinis, asisten masinis dan teman-temannya yang menjadi tumbal. Manajemen KAI kayanya ga ada komitmen untuk menjamin kenyamana apa lagi kenyamanan penumpangnya. Dan hal itu muncul karena kinerja yang buruk, tidak adanya pengawasan serta manajemen perusahaan yang buruk.

Kalo kaya gini, berapa puluh tahun lagi kita harus menunggu untuk punya Shinkansen… ?
Mengutip dari wikipedia bahwa ketepatan waktu Shinkansen pada tahun 2003 adalah 6 detik dari waktu yang dijadwakan. Waktu tersebut sudah termasuk seluruh kesalahan alami dan manusia dan dihitung dari seluruh 160.000 perjalanan yang dijalani oleh Shinkansen.

Dilema aparat di Indonesia

Sudah menjadi pengetahuan umum (bukan rahasia umum) bahwa negaraku terinta ini terlalu banyak memiliki oknum aparat yang nggregetin mulai dari level paling bawah sampai paling atas. Saking banyaknya oknum aparat ga bener tersebut, aparat lain yang banting tulang melakukan tugasnya dengan jujur dan penuh komitmen jadi tidak terlihat perannya. Entah karena kurangnya publikasi mengenai mereka atau emang kuantitasnya yang kalah jauh dibanding dengan kelompok yang nggregetin tadi itu.

Kompas hari ini (23 Maret 2006) menampilkan 2 kelompok tersebut di atas. Frontpage, tepat di bawah berita utama terdapat berita 2 kolom dengan judul “Empat Anggota Brimob Dalangi Perampokan“. Kayanya ini udah bukan menjadi berita asing lagi bagi kita kan ….

Di halaman ketiga, “Miliaran Rupiah dibagi-bagi“, kembali oleh para oknum aparat ba****t itu. Bukannya dibagi-bagi ke rakyat tapi buat kroni-kroninya sendiri. Masih di halaman tiga, “Ajun Komisaris Sup Diperiksa secara Intensif” berkenaan dengan kasus pemerasan.

Halaman 7 menampilkan karikatur seorang berbaju safari tengah ngorok dengan khidmad di kursi kulit nan empuk dengan mikrofon bertangkai panjang tepat di depan mulutnya. Judul tulisannya “Wakil Rakyat, Manusia Setengah Dewa?”. Kayanya mereka emang cuman mewakili rakyat buat ngorok dan ngabisin duit negara.

Di halaman 26, 4 petugas Bea dan Cukai ditahan karena terlibat penyelundupan motor gede. Headline halaman itu sendiri berjudul “Pegawai Provinsi Ditangkap” diduga menipu 12 CPNS di Banten. Dan masih ajah orang-orang tertipu tadi adalah mereka yang berharap bisa diterima jadi PNS dengan menyetorkan uang suap antar 20 sampai 40 juta.

GUOBLOK!!!

Orientasi orang-orang seperti ini kalo sudah diterima adalah Break Event Point, balik modal. Abis itu cari untung. Maka tidak akan pernah pupuslah rantai kaderisasi pejabat/aparat bobrok di negeri ini.

Sepertinya Kompas masih memiliki berita mengenai ulah para aparat/pejabat brengsek itu di halaman berikutnya. Anggota Polri yang gugur akibat kerusuhan di Abepura beberapa hari lalu seakan terlupakan begitu saja digantikan oleh berita teman-temannya yang ga bener itu.

Phew … kayanya perlu di oursource ajah kali yah plus dilakukan audit internasional secara rutin 😀

Software Bajakan Boleh Dipakai Resmi Lho …

Cuplikan dari detikinet.com
Dalam undang-undang, software bajakan yang dilarang adalah untuk kepentingan komersial. Jadi untuk kepentingan komersial dilarang! tapi untuk kepentingan pelatihan, dan di instansi-instansi itu diperbolehkan,”

Kalimat di atas adalah pernyataan seorang AKBP1 di Makassar berkaitan dengan razia software bajakan yang sedang dilakukan di sana. See, razia software bajakan emang dibenarkan dan seharusnya demikian. Cuman komentar si Oom AKBP itu kalo ga dibilang keblinger kok ya o’on banget kesannya.

Kalo dalam pengertian orang awam hukum seperti saya ini, berarti ada beberapa kesimpulan dari pernyataan di atas:
1. Jualan software bajakan = HARAM (pokoknya yang menghasilkan duit dari pemakaian/penjualan software tersebut)
2. Instansi-instansi (termasuk instansi kepolisian sendiri, mungkin) memakai software bajakan = HALAL (atau mungkin diharuskan ?)

Nah bikin SIM ajah ke salah satu instansi kan kita mesti keluar duit, berarti si instansi dapat duit. Itu bukan termasuk komersil yah ? Ck ck ck ck. Si Oom kayanya cuman inget isi pasal 72 ayat 3 UU No.19 Tahun 2002 tentang Hak Cipta soal kata “kepentingan komersil”.

Bunyi lengkap pasal 72 ayat 3 tsb adalah :
Barangsiapa dengan sengaja dan tanpa hak memperbanyak penggunaan untuk kepentingan komersial suatu Program Komputer dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 500.000.000,00 (lima ratus juta rupiah).

Tapi apakah memang pasal tersebut diterjemahkan sesuai dengan komentar Oom AKBP di atas? Saya rasa kok nggak yah. Trus pasal-pasal lain dikemanain ? Belum lagi pernyataan di atas kok bertentangan dengan surat dari Menkominfo periode sebelumnya (Syamsul Mu’arif) yang mengajak melakukan tindakan konkrit berkenaan dengan pemakaian software di instansi pemerintahan. Salah satunya adalah dengan tidak menggunakan software bajakan dan menggunakan solusi alternatif software open source.

Apakah ini untuk ngeles bahwa kenyataan instansi-instansi pemerintah tingkat pemakaian software bajakannya mencapai 90% ? Jadi dengan pernyataan tersebut di atas, angka 90% tersebut dibenarkan (baca:dihalalkan). Pantes saja razia selama ini beraninya cuman ke toko-toko di Mall (termasuk toko komputer).

Nah loh. Gimana bisa bener penegakan hukum kalo caranya seperti ini, aparatnya sendiri bikin pertanyataan-pernyataan rancu yang keblinger kaya gitu.

Haiyaaa ….

1:Ajun Komisaris Besar Polisi

Diary Ciledug

Ngga kerasa, udah sebulan lebih ga posting. Yah waktu tersedot abis karena kutukan angka 4. Menurut kepercayaan tionghoa, angka 4 adalah angka sial. Nah saya ketiban sial karena gue ngurusin 4 buah angka 4 😛 Dodol emang kominfo.

Nah karena angka sial itu, jatah cuti bulan Februari yang semestinya jadi acara indah pacaran ama yayang di Makassar jadi terganggu karena harus dipanggil balik ke Jakarta. Hiks. Di Jakarta camping mulu di kantor tiap weekend. Balik ke bad habit waktu masih ngantor di GSI1.

Anyway, minggu ini adalah minggu yang bikin kelabakan. Masih terkait angka sial itu, saya harus wira-wiri bin bolak-balik Pancoran-Ciledug-Salemba untuk ngurusin wisuda.

Rabu, 15 Maret 2006
Pagi (pulang ktr dini hari), bersama Bayu, Roni, Jim, Asep kita ke kampus. Bikin SPBM2 di loket 12 abis itu naek ke ruangan Pak Mardi n ngobrol + becanda-becanda kaya biasanya di sana. Jam makan siang Pak Mardi cabut ke imigrasi ngurusin passpor, kita ber-5 ngemil di kantin samping ASTRI3. Wah bening-bening pemandangannya 😀 Selesai makan perjuangan di mulai. Ke loket 7 minta daftar nilai, dan masalahpun muncul buat saya dan bayu.

Dari syarat 12 MKM4 yang harus diambil, punya kita berdua cuman ada 10. Nah loh, ternyata Bahasa C dan Bahasa Pemrograman Dasar belum di flag sebagai MKM. Aih aih aih, mesti ke Pak Hari untuk ngurusin ini. Sialnya beliau sedang seminar, jadi pulang paling sore jam 5. Buset dah.

Ya udah akhirnya ke Pak Adi Widjaya buat minta tolong. Ternyata banyak juga yang kasus serupa, terutama NIM5 dibawah 2001. Akhirnya Pak Adi mendata semuanya untuk diberesin malam itu juga. Phew… Dah jam 3 sore. Ya udah akhirnya balik ke kantor dan balik ngurusin angka sial bertiga ama Razi dan Pak Arman. Mereka balik jam 2 pagi, saya masih terus krn harus nyiapin swing over buat migrasi datacenter. Balik kamis jam 7 pagi.

Kamis, 16 Maret 2006.
Telpon berdering mulu, padahal baru juga bobo :). Online dari kontrakan buat remote kerjaan bentar. Sarapan, trus jam 11 berangkat lagi ke Ciledug. Sampe di sana loket 7 & 8 dah kaya loket PT KAI7 di Juanda. Antrian mahasiswa kaya antrian calon penumpang kereta. Langsung deh print DRAFT TRANSKRSIP nilai buat syarat pendaftaran wisuda.

Dapat print-out nya dengan keterangan “belum lulus teori” dan harus menghadap kepala program studi FTI8 (which is Pak Hari Soetanto). Nah loh, kalo belom lulus teori kok bisa di approve buat bikin skripsi sampe kelar sidangnya pula. Ya udah akhirnya ngurus ke Pak Hari sekalian mo ngapus satu mata kuliah pilihan ( kebanyakan SKS9 😛 ). OK, mata kuliah peran-sis diapus dan checking flag lulus teori. Ternyata ga ada masalah, gue n yang lain (more than 20 ppl) lulus teori semua kok. Trus gemana bisa BAAK11 nyatain kita belum lulus teori ?

Satu rombongan balik lagi ke loket 7. Minta printout lagi. Dan diriku yang malang ini kembali sial.

“Belum lulus teori dan nilai yang mo diapus masih nongol, silakan ke kaprodi10 lagi”.

Anjrit, ini mana yang bener sih datanya? Balik lagi ke Pak Hari. Check check check, di Pak Hari OK semua kok datanya, yang hapus nilai udah di entry, cuman belum di “verifikasi” oleh kepala BAAK11. Haiyaaa… turun lagi ke BAAK, ternyata udah ada segerombolan mahasiswa sdg menunggu kedatangan kepala BAAK yang sedang keluar kantor. Jam 3 akhirnya yang ditunggu datang, penghapusan nilai selesai di-“verifikasi”. Balik ke loket 7, minta print out draft transkrip nilai. Kembali dinyatakan “belum lulus teori”. Anjritttttttttt, ini gimana seh. Setengah sewot, saya ma beberapa orang curhat lagi ke Pak Hari sampe beliau bete karena kok kasus yang sama mulu sih kejadiannya. Ini pasti operatornya ajah neh yang salah mengartikan request. Pak Hari menegaskan bahwa anak-anak FTI datanya udah OK semua. Beliau malah menyarankan “udah deh, langsung daftar wisuda ajah ga usah cek2 transkrip lagi. Toh nanti pas daftar wisuda langsung di print juga semuanya”.

Karena males kalo nanti kembali mendapat piala “belum lulus teori”, akhirnya inisiatif untuk curhat ke kepala BAAK. Dan beliau juga bete karena udah belasan mahasiswa baru saja komplain hal serupa. Aih aih, akhirnya saya diantar langsung ke dalam ruangan loket 7. Dan ternyata emang problem di operatornya yang salah menterjemahkan request.
Aih aih aih aih …

Jam 3 lebih akhirnya draft nilai keluar, MKM udah 12, lulus teori. Udah deh abis itu bayar uang wisuda. Done. Selanjutnya fotokopi kwitansi pembayaran tersebut. Done. Kemudian balik ke loket 6 nyerahin kwitansi, SPBM & foto 3×4 (2 lembar) 4×6 (4 lembar). Masalah belum kelar.

Si Jim foto 4×6-nya bermasalah karena “kegedean”. Nah loh, kegedean gemana? Kan dah bener ukurannya 4×6. Akhirnya minjem poto 4×6 orang lain yang foto di kampus. Ternyata ukurannya kagak ada 4×6 kaya punya kita yang foto di Fuji melaikan 4×5. Ya ampun, mereka punya penggaris ga sih? Si Jim langsung deh sewot. Dan karena dah bete akibat di-ping pong seharian dia langsung foto ajah di kampus walo tahu hasilnya tidak memuaskan.

Saya ma Bayu ragu-ragu mo foto juga kaya Jim. Ya udah akhirnya kita pulang ajah.
Jam 7 malam ke kos-kosan Bayu. Pinjam jas almamater buat foto. Bermodalkan Canon Ixus 5, akhirnya kita bikin studio foto dadakan di kamar Bayu. Setelah retouch dikit pake photoshop, aku ma roni langsung cabut ke FIP13 Matraman. Jam 21.30 foto kelar, pulang ke kontrakan. Sampe rumah langsung online ngurusin kerjaan yang tertunda gara2 ke Ciledug. Aih, CMG masih ajah ada problem. Ya udah deh, mending konsen ke migrasi data center ajah. Si Kodok ma Odong standby di kantor.

Jum’at, 17 Maret 2006
Jam 9 ada meeting masalah performansi SMSC dengan vendornya. Abis sholat Jum’at langsung cabut lagi ke ciledug buat ngurusin foto. Kali ini khusus pinjem penggaris milik Mbak Erna buat jaga-jaga kalo loket 6 rese lagi soal ukuran foto. Di loket 6 (sambil naruh penggaris depan loket) saya nyerahin foto versi 1 (yg bukan dari digicam) sambil menegaskan kalo ini udah 4×6, boleh dicek dengan penggaris. Eh, tanpa komentar langsung di proses tuh tanpa ba-bi-bu lagi termasuk punya Bayu dan titipannya (Roni, Asep, Mas Poer). Ganti si Jim yang mencak-mencak.
Haiyaaa … thinkless deh (maksudnya ga abis pikir, tapi kok kayanya malah keabisan pikiran yah ? hehehehehe). Urusan foto selesai kita ke ruangan Pak Hari buat nanya-nanya soal prosedur untuk apply jadi dosen di Budi Luhur. Ceritanya si Jim pingin ngajar di sana, akhirnya kita bertiga malah di minta jadi dosen. Dan dasar dah ciri khasnya Pak Hari, kita malah ngobrolnya lama di luar topik ngobrolin perkembangan kampus tercinta sambil becanda-becanda, lupa kalo di luar ada antrian 😀 hihihihihihi.
Balik ke kantor dan mesti bertarung lagi dengan angka sial.
Phew … 1 masalah selesai, sisanya masih ngantri untuk diselesaikan 😛


1: Graha Surya Internusa
2: Surat Persetujuan Biodata Mahasiswa
3: Akademi Sekretari
4: Matakuliah Kendali Mutu
5: Nomor Induk Mahasiswa
6: Ga ada apa-apa
7: Kereta Api Indonesia
8: Fakultas Teknik Informatika
9: Sistem Kebut Semalam (??)
10: Kepala Program Studi
11: Biro Administrasi Akademik & Kemahasiwaan
12: kelewatan hehehehehehe
13: Fuji Image Plasa gitu loh ….

Gen’ ASik

Abis ngurus tiket Garuda di Bidakara (sempet nabrak pintu kaca segala *aih malunya* 😛 ) saat ini saya terdampar di Blok M Plaza. Bengong di depannya Kopi Luwak depannya Popeyes. Sementara itu di belakang saya lagi heboh panggungnya Telkomsel yang sedang meluncurkan program loyalty baru untuk pemakai kartuAS yang diberi nama Gen’ Asik (menurut press releasenya itu singkatan dari Generasi Asik). Pemenang acara Boyband TPI yang jadi pengisi acara suaranya enak juga.

Jadi secara garis besar, Gen’ Asik ini mirip dengan program simPATIzone yang itu membuat sebuah komunitas khusus buat pemakai kartuAS dengan segala feature-feature yang ditawarkan.

aih-aih, bakal lebih sibuk lagi deh tahun ini ….

kartuAS image is property of PT Telkomsel

Pindahan Rumah

Yow guys …
FYI, ga penting sih hehehehehehehehe
Hari ini, saya + Pii + Tono + Budi pindahan rumah dari kontrakan di Jl. Rasamala I gg. Puskesmas No.25 ke Jl. Sapta No.33a.
Lumayan juga capeknya mindahin segitu banyak barang. Yang nyebelin isi kamarnya si Budi yang menghasilkan alumni berupa 1 lemari baju, 2 dus gede baju, 1 dipan + 2 meja kecil, belum lagi pernak-pernik lainnya. Buset dah.
Ya udah, setelah sukses kehujanan selesai Ashar tadi, kini saya udah berada di kos-kosan Bayu & Roni untuk bantuin mereka bertiga (+ Mas Pur) menyelesaikan skripsi. Jum’at tanggal 10 Februari mereka pada sidang selesai Sholat Jum’at.
Ganbatte ne !!!

Berburu Tanda Tangan

Well, masih melanjutkan serial “skripsi” 🙂 Abis sidang tanggal 19 Januari kemarin, tanggal 20-nya langsung balik ke kampus pusat setelah semalam begadangan bikin revisi beberapa lembar + bantuin si Rudi yg mampir ke ktr benerin program GIS-nya yang “ancur” + kebetulan saya notis kalo Vaio-nya yg segede bagong itu telah sukses terinfeksi that f*****g brontok virus.
Sampe kampus jam 9 pagi, untuk ga telat krn mesti gantian jadi supporternya Rudi + bawain LCD Proyektor. (Thanks to Lyta buat pinjeman proyeltornya, you’re my saviour angel. Hontou ni arigatou!). Selain itu rada kaget juga, pas lagi asik “ngintip” sidang di “kamar” sebelah, Pak Bandi -dosen penguji si Rudi- mengajukan pertanyaan yang kayanya kesulitan buat di jawab oleh si Rudi. Eh abis itu beliau malah bilang “Ya udah, kalo gitu ask the audience ajah deh. Nilainya 50-50 kalo bisa jawab”.
Sambil nunjuk dada diri sendiri saya nanya ke Pak Bandi.
“Saya Pak?”
Pak Bandi mengiyakan, n audience sidang si Rudi sebenernya emang saya sendiri 😛
Lha ??? Ini sidang pa kuis Who Wants To Be a Millionaire yah ?
Ya udah deh, setelah 3 pertanyaan di lempar ke audience si Rudi lulus dengan nilai B (80). Yg nyebelin si Rudi cuman revisi selembar, sementara saya mesti ganti jajaran genjang flowchart 4 lembar + daftar isi walo dpt A.
Ya udah, selesai Jum’atan acara berburu tanda tangan di mulai. Ternyata waktu yang tepat untuk berburu tanda tangan adalah setelah sholat Jum’at 🙂 Dosen-dosen penguji banyak yang ngumpul di ruangan Pak Mardi selesai makan siang sambil nunggu “kloter” sidang berikutnya jam 13.30. Dan terbukti revisi saya berjalan mulus 🙂 Rudi langsung deh nyari rental komputer buat ikut bikin revisi. Hehehehehe, dia mo patas ceritanya. Sidang + revisi di hari yang sama. Kebetulan Jim & Asep yg sidang tanggal 18 juga datang sore itu untuk revisi juga. Jam 5 sore baru kelar.
Acara berburu tanda tangan kelar. Selanjutnya adalah hardcover n berburu tanda tangan lebih banyak lagi, 5 biji.
Tadi siang janjian ma Rudi ke kampus pusat. Berangkat 11.30 n Jum’atan di sana. Selesai sholat Jumat acara berburu tanda tangan di mulai. Pak Mardi, Pak Tomo & Pak Syafrullah OK dalam waktu ga lebih dari 10 menit. Yang lama mesti nungguin Pak Hari dan Pak Wendi karena keburu “nyidang”. Kayanya hari ini bukan hari baik buat peserta sidang. Ada beberapa yang keluar dengan tampang shock bahkan nangis padahal baru juga 30 menit, (waktu sidang 90 menit). Kayanya juga ada yang WO krn dosen penguji pada “berkeliaran” di ruang tunggu mahasiswa dan dikerumunin oleh para penggemarnya (berburu tanda tangan kaya saya). Ada yang serius nyari dosen, kirain mo konsultasi taunya mo menyatakan diri gugur n ikut sidang kedua dengan alasan ga siap, buku softcover belum di jilid.
Lha …. sebelumnya kemana ajah mas ?
Jam 3 sore semua urusan kelar. Lega-nya ….. 🙂