Met Ultah, Jakarta

Semalam pesta kembang api berlangsung meriah di silang monas menyambut ulang tahun Jakarta ke-478. Berapa yah biaya buat bikin pesta kembang api se-spektakuler itu ?

Ditempat lain, anak-anak yang terkena busung lapar dan muntaber tergeletak menunggu nasib. Viktor Djami masih koma di Rumah Sakit UKI, akibat digebukin aparat trantib yang ganas dan sadis (pikir mereka keren kali gebukin orang di depan reporter TV, live, kapan lagi masuk tv :D). Sampai sekarang, sepertinya tak ada satupun aparat terkait di Kodya Jaktim yang menunjukkan itikad baik untuk menyelesaikan hal ini.

Pak Gubernur asyik nongol di TransTV tanpa bisa menjawab satupun pertanyaan trivia dari Farhan soal Jakarta. Kelitnya, pertanyaan tersebut terlalu mudah buat dia, jadi biarlah mantan None Jakarte ajah yang jawab. Tapi program Busway/Transjakarta koridor I memang cool. Sayang yang koridor II kok kayanya mulai terlantar. Semoga rencana soal transportasi yang baru akan sukses. Mestinya umur kendaraan juga dibatasin seperti di Singapura, biar kendaraan tak layak jalan penyebab

Di channel tv lain, mantan menteri agama tersangka korupsi berjamaah Dana Abadi Umat (DAU) Depag tampil dengan membanggakan dirinya. Bisa korupsi sekarang menjadi kebanggan tersendiri buat kalangan mereka ternyata. Masya Alloh

Banjir di mana-mana. Prestasi polusi masih hebat, bertahan di ranking 3 dunia setelah Mexico City dan Bangkok selama beberapa tahun ini. Ga butuh waktu lama sih buat ningkatin prestasi menggusur Bangkok, atau bahkan Mexico City 😀

Selamat ulang tahun ke-478 Jakarta.

*sigh*

have no words to say, but tears might be

semoga membuat kita untuk semakin menunduk, menangkupkan tangan, selalu beryukur dan ingat pada Alloh SWT.

Di Manakah Rasa Kemanusiaan Kita Warga Jakarta?
Balada Jenazah Anak Seorang Pemulung
PEMULUNG NAIK KRL BAWA MAYAT ANAK DIAMANKAN POLISI
Pemerintah Gendong Pengusaha,Rakyat Gendong Mayat Anaknya!

Buat Faiz, maaf ya, puisinya saya salin disini:

KISAH DARI NEGERI YANG MENGGIGIL
(untuk adinda: Khaerunisa)

Kesedihan adalah kumpulan layang-layang hitam
yang membayangi dan terus mengikuti
hinggap pada kata-kata
yang tak pernah sanggup kususun
juga untukmu, adik kecil

Belum lama kudengar berita pilu
yang membuat tangis seakan tak berarti
saat para bayi yang tinggal belulang
mati dikerumuni lalat karena busung lapar
aku bertanya pada diri sendiri
benarkah ini terjadi di negeri kami?

Lalu kulihat di televisi
ada anak-anak kecil
memilih bunuh diri
hanya karena tak bisa bayar uang sekolah
karena tak mampu membeli mie instan
juga tak ada biaya rekreasi

Beliung pun menyerbu
dari berbagai penjuru
menancapi hati
mengiris sendi-sendi diri
sampai aku hampir tak sanggup berdiri
sekali lagi aku bertanya pada diri sendiri
benarkah ini terjadi di negeri kami?

Lalu kudengar episodemu adik kecil
Pada suatu hari yang terik
nadimu semakin lemah
tapi tak ada uang untuk ke dokter
atau membeli obat
sebab ayahmu hanya pemulung
kaupun tak tertolong

Ayah dan abangmu berjalan berkilo-kilo
tak makan, tak minum
sebab uang tinggal enam ribu saja
mereka tuju stasiun
sambil mendorong gerobak kumuh
kau tergolek di dalamnya
berselimut sarung rombengan
pias terpejam kaku

Airmata bercucuran
peluh terus bersimbahan

Ayah dan abangmu
akan mencari kuburan
tapi tak akan ada kafan untukmu
tak akan ada kendaraan pengangkut jenazah
hanya matahari mengikuti
memanggang luka yang semakin perih
tanpa seorang pun peduli
aku pun bertanya sambil berteriak pada diri
benarkah ini terjadi di negeri kami?

Tolong bangunkan aku, adinda
biar kulihat senyummu
katakan ini hanya mimpi buruk
ini tak pernah terjadi di sini
sebab ini negeri kaya, negeri karya.

Ini negeri melimpah, gemerlap.

Ini negeri cinta

Ah, tapi seperti duka
aku pun sedang terjaga
sambil menyesali
mengapa kita tak berjumpa, Adinda
dan kau taruh sakit dan dukamu
pada pundak ini

Di angkasa layang-layang hitam
semakin membayangi
kulihat para koruptor
menarik ulur benangnya
sambil bercerita
tentang rencana naik haji mereka
untuk ketujuh kalinya

Aku putuskan untuk tak lagi bertanya
pada diri, pada ayah bunda, atau siapa pun
sementara airmata menggenangi hati dan mimpi.
aku memang sedang berada di negeriku
yang semakin pucat dan menggigil

(Abdurahman Faiz, 7 Juni 2005)

Jakarta, "in the dark"

Hari ini Rabu 15 Juni 2005. Pukul 12:41 “SIANG” waktu posting ini ditulis.
Tapi hujan super deras yang sedang mengguyur Jakarta saat ini menampakkan suasana pukul 19.00 “MALAM”

Subhannallah

Sangkuriang

Sangkuriang, Gunung Batok (Bromo), Roro Jongrang (Candi Prambanan). Semuanya adalah cerita legenda rakyat selain itu semuanya juga punya satu kesamaan. Menyelesaikan pekerjaan besar dalam waktu satu malam. Sangkuriang membangun sungai dan perahu besar. Di legenda Gunung Batok, Rara Anteng meminta dibuatkan laut di Gunung Bromo dengan hanya menggunakan batok kelapa. Bandung Bondowoso ditantang Rara Jongrang membangun seribu candi.

Kesamaanya di mana ?
Semuanya mesti kelar dalam waktu satu malam ….

Aih aih aih …. *ngantux + lemez beratz* neh … gara-gara proyek “Sangkuriang”

public class Sangkuriang {
private String mInitVar = “ZzzzZzzzZzzzZzzz”;


….

Musical Baton

Aih aih aih aih, mesih pening abis sertifikasi IT-IL, trus mesti jadi Quality Assurance project gede di kantor, trus masih ada beberapa project n jadi core development team di sana. Hu hu hu hu, jadi ga bisa sering2 update blog. Skala prioritas 🙂

Ya udah, karena ada teguran di samping (nunjuk-nunjuk shoutbox) dari yayang, saya sempat-sempatin deh nulis tentang Musical Baton

  1. Total volume berkas musik dalam komputer saya: ummmm, mesti ngitung dulu soale ada 3 external hardisk + 1 directory di laptop. Tapi kira-kira total cuman 8GB. Not much compared to some friends. A mixture of music ripped from CDs, passed from friends, downloaded from internet (mostly :D)
  2. CD audio terakhir yang dibeli adalah 12 Girls Band: Shining Energy + Live at Budokan Japan. Hehehe, internet first, buy cd later (if i couldnt found the songs i want in the net :P)
  3. Lagu yang diputar sekarang adalah Pasir Putih by KLa Project.
  4. Lima lagu yang sering didengarkan: Chiisaki Mono by Azuca Hayashi (Pokemon: Jirachi the Wishmaker), Shining Energy by 12 Girls Band, Fields of Hope by Rie Tanaka (Gundam Seed Destiny), Mahadewi by Padi, Played-A-Live by Safri Duo
  5. Lima orang yang saya operkan musical baton ini: Femmy, bebeQ, Martono, Oom Gatorz dan Mbak Vi3.
  6. Only them cross my mind right now 😛

PHP, 10 years

PHP succeeds an older product, named PHP/FI. PHP/FI was created by Rasmus Lerdorf in 1995, initially as a simple set of Perl scripts for tracking accesses to his online resume. He named this set of scripts ‘Personal Home Page Tools’. As more functionality was required, Rasmus wrote a much larger C implementation, which was able to communicate with databases, and enabled users to develop simple dynamic Web applications. Rasmus chose to release the source code for PHP/FI for everybody to see, so that anybody can use it, as well as fix bugs in it and improve the code.

This is the UseNET posting Rasmus has made on June 1995

Announcing the Personal Home Page Tools (PHP Tools) version 1.0.

These tools are a set of small tight cgi binaries written in C.
They perform a number of functions including:

. Logging accesses to your pages in your own private log files
. Real-time viewing of log information
. Providing a nice interface to this log information
. Displaying last access information right on your pages
. Full daily and total access counters
. Banning access to users based on their domain
. Password protecting pages based on users’ domains
. Tracking accesses ** based on users’ e-mail addresses **
. Tracking referring URL’s – HTTP_REFERER support
. Performing server-side includes without needing server support for it
. Ability to not log accesses from certain domains (ie. your own)
. Easily create and display forms
. Ability to use form information in following documents

Here is what you don’t need to use these tools:

. You do not need root access – install in your ~/public_html dir
. You do not need server-side includes enabled in your server
. You do not need access to Perl or Tcl or any other script interpreter
. You do not need access to the httpd log files

The only requirement for these tools to work is that you have
the ability to execute your own cgi programs. Ask your system
administrator if you are not sure what this means.

The tools also allow you to implement a guestbook or any other
form that needs to write information and display it to users
later in about 2 minutes.

The tools are in the public domain distributed under the GNU
Public License. Yes, that means they are free!

For a complete demonstration of these tools, point your browser
at: http://www.io.org/~rasmus


Rasmus Lerdorf
ras…@io.org
http://www.io.org/~rasmus

API, kena api kok malah geli :)

Yeaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa. Yihaaaa yihaaaa yihaaaa yihaaaaa *nari indian kelilingin kamar*.

Minggu 29 Mei 2005, Gren Pinal API (Audisi Pelawak TPI) yang digelar di Teater Tanah Airku, TMII menobatkan group SOS dari Bandung (grup paporit nuy neh) menjadi juara API I. Walo penampilan semua peserta di malam Gren Pinal ini kalo menurut nuy semua pada “garing”, tapi sejak awal nuy dah jagoin SOS bakal menang. Walo garing, SOS malam ini tetap paling lucu di antara ketiganya.

Yang anti klimaks adalah group LIMAU dari Jakarta. Grup yang sepertinya disukai tim pencela yang asli Jakarta ini tampil buruk tidak seperti 3 episode sebelumnya. Akhirnya mereka harus rela keluar sebagai juara ketiga, selisih dikit hasil smsnya dengan boyband yang beralih profesi sebagai komedian, yaitu group BAJAJ. Yah agak ironis sih, karena sebelum Gran Pinal justru profile group ini di kesehariannya yang di tampilkan.

Well, whatever. Seperti kata para pencela malam ini, juara berapapun mereka telah memberikan sesuatu yang beda dalam menu tayangan televisi nasional yang kebanyakan acaranya emang “menyedihkah”.

Di sela-sela acara juga disisipkan penghargaan buat tim lawak PATRIO yang udah lebih 10 tahun ngebawain acara NGELABA di TPI. Mulai dari tim ngocol di radio (radio SK kalo ga salah), jadi pelawak di tipi, sekarang jadi artis terkenal. Selepas mereka TPI menggaet tim CAGUR, debutan baru yang mulai dikenal luas di masyarakat.

Dengan API, tampaknya generasi baru lawak sudah mulai muncul. Ada pelawak ABG seperti group KASAS dari Surabaya. Ada pelawak yang suka nyelipin pesan-pesan moral di lawakannya seperti group LIMAU. Ada pelawak boyband seperti BAJAJ, pelawak dari teman-teman etnis cina yang diwakili group SQL. Bukannya SARA, tapi ini membuktikan bahwa ga ada SARA di komedi dan pelawak bukanlah profesi memalukan tapi justru profesi mulia karena bikin banyak orang gembira.

Bandingkan dengan profesi politikus… Bandingkan dengan profesi politikus… Bandingkan dengan profesi politikus…
Yaaaaaa gitu dechhh …

Bravo SOS!
Bravo API!