SQL dan NoSQL di MariaDB 10

Singkat saja, MariaDB adalah portingan dari MySQL, software database yang sangat dikenal di dunia opensource. Inisiatif MariaDB muncul pasca MysQL diakuisisi oleh Oracle. Hal ini menimbulkan keraguan juga ketakutan dikalangan open source mengenai roadmap software database tersebut. Akankah tetap open source? Akankah proyeknya tetap diteruskan oleh MySQL? Atau sebaliknya malah dimatikan (setelah fitur-fitur pentingnya diserap ke dalam produk komersil mereka)?

Sejak peluncurannya di tahun 2009, MariaDB telah membangun komunitas open source yang aktif dan telah mempelopori berbagai inovasi dalam dunia database. Tahun 2013, Wikimedia Foundation mengumumkan bahwa mereka memigrasikan database produksi mereka dari MySQL ke MariaDB. Dan jumlah instance-nya tentu tidak hanya 10-20 saja. Selain itu Google juga menyampaikan hal yang sama. Dan ngomongin soal Google, MySQL instance-nya bisa ribuan jumlahnya.

Akhir Maret kemarin, SkySQL -perusahaan yang berada di belakang MariaDB- bersama dengan MariaDB Foundation mengumumkan ketersediaan MariaDB 10. Versioningnya cukup aneh karena versi terakhir MariaDB sebelumnya adalah 5.5 (ngikut versioningnya MySQL). Salah satu fitur penting di MariaDB 10 ini adalah dukungan ke database NoSQL.

NoSQL kini menjadi salah satu solusi penting seiring dengan pesatnya tingkat pertumbuhan pengguna mobile device serta layanan cloud. Hal ini berimplikasi ke jumlah data yang meningkat sangat tajam volumenya yang harus diproses oleh kalangan enterprise. RDBMS sendirian tidak dapat diandalkan lagi untuk mengolah data ini. Dari sinilah NoSQL masuk dengan berbagai kemampuannya.

Seperti dilansir dari blog MariaDB Foundation, fitur utama MariaDB 10 ini adalah Connect Engine yang menyediakan akses ke cepat ke file-file tak berstruktur semacam log file, berbagai tipe ODBC database langsung dari dalaman MariaDB 10. Hal ini kok mengingatkan saya akan presentasi JBoss Data Virtualization dari Redhat 🙂

Fungsi Cassandra SE (Storage Engine) memungkinkan kita untuk dapat mengakss data di sebuah cluster Cassandra cluster. Hal ini membuat kolom-kolom data dari Cassandra tampil menjadi semacam tabel biasa di MariaDB. Proses select insert update data di Cassandra dapat dilakukan via MariaDB 10 termasuk melakukan “join table” antara data yang disimpan di MariaDB dengan data yang ada di Cassandra.

MariaDB 10 juga mempunyai kemampuan sharding yang sudah built-in dengan SPIDER Engine. Selain itu semua, versi baru ini juga diklaim jauh lebih cepat dan stabil dibandingkan versi-versi sebelumnya.

Untuk kebutuhan aplikasi database yang lebih serius menggunakan MariaDB, SkySQL akan segera meluncurkan MariaDB Enterprise generasi baru termasuk dukungan dari para expert (tentu saja komersial) untuk deployment MariaDB di environment yang lebih besar dan kompleks.

Referensi:

(Traveling) Kyoto – Teramachi & Nishiki Market

Ramalan cuaca di Jepang itu menjadi suatu hal yang menyenangkan tapi sekaligus menyebalkan.

Menyenangkan karena ramalannya akurat, paling ga selama seminggu kami di sana. Kalo disebutkan suhu udara antara 2-11 derajat, maka kisarannya ya sekian. Kalo dibilang hari itu akan bersalju, ya saljunya turun beneran.

Menyebalkan juga karena ramalannya akurat. Hari terakhir kami di Kyoto ramalan cuacanya adalah hujan. Dan hujannya beneran terjadi, mulai jam 2 pagi sampai jam 8-9 malam ga berhenti. Great. Berantakan deh itenerary hari itu.

Acara mengunjungi beberapa kuil termasuk imperial palace terpaksa dibatalkan. Karena percuma saja atau setidaknya tidak akan maksimal karena banyakan spotnya kan outdoor seperti Zen Garden, arsitektur bangunan dan sejenisnya.

Kyoto seminggu ini dah dingin, sekarang ditambah hujan seharian pula. Bakal berabe nih kalo kepala sampe keguyur hujan lumayan lama. Akhirnya kami meutuskan untuk mengunjungi Kyoto Handicraft Center serta blusukan di Nishiki Market dan sekitarnya saja. Melihat rute awal sih spot terdekat adalah Nishiki, jadi kami mengambil bis ke arah Shijo-Kawaramachi.

Alih-alih menemukan Nishiki Market (mengikuti saran Google Maps), kami jadinya malah blusukan di Teramachi dan Shin Kyogoku.

Jadi, shopping center-nya Kyoto itu ada di seputaran Shijo-Kawaramachi street. Di sana kamu bakal nemu berbagai macam toko termasuk mall gede seperti Takasihimaya, Marui atau departemen store kaya Daimaru. Merek-merek fashion ternama juga punya butik di daerah ini.

Nah Teramachi dan Shin Kyogoku adalah 2 lorong berdampingan. Aslinya sih pedestarian jalan yang panjang dan beratap ala pasar baru. Kalian bisa menemukan berbagai macam toko mulai jual baju hingga doujin. Restoran dengan menu eropa maupun menu Jepang. Toko suvenir juga banyak terdapat di sini lho, jadi Kyoto Handicraft Center langsung kami coret dari daftar 🙂 Ternyata, Nishiki Market itu adalah sebuah gang yang terdapat di antara kedua jalan ini.

Nishiki menjadi unik karena di sepanjang lorongnya kamu hanya akan menemukan kios-kios bahan makanan (khususnya yang tradisional Jepang). Ga heran kalo Nishiki dijuluki sebagai “Kyoto’s Kitchen”. Gangnya sempit dan selalu ramai pengunjung. Kamu bisa icip-icip juga di sini karena banyak juga kios yang menyediakan sample atau menjual makanan panggang yang bisa dinikmati sambil jalan-jalan. Selain itu, Nishiki Market ini umurnya juga sudah sekian abad (kira-kira mulai sekitar abad 13) dan sampai sekarang masih menjadi pasar yang penting bagi Kyoto.

Karena lapar, kami coba makan siang di seputaran sini. Pilihan jatuh ke restoran yakisoba bernama Mr. Young Men. Harganya sih terjangkau, sekitar JPY 700 untuk satu paket yakisoba + okonomiyaki. Tapi dari sisi rasa, ini masakan Jepang di rating terbawah yang saya rasakan seminggu ini. Masih enakan gyudon di pengkolan dekat hostel. Dan okonomiyakinya kalah jauh dibanding Issen Yoshoku. Tapi tempatnya sih nyaman dan stafnya cukup friedly ^_^ Although they have tripadvisory sticket, i just cant order anything else coz they’ve got pork in the menu 🙁

Menjelang sore, pas iseng-iseng buka facebook ternyata ada koleha yang ingin nitip gitar via Facebook Messenger. OK, gitar yah? No problem. Sayangnya orang-orang kalo mo nitip itu selalu bertele-tele dan waktunya mepet. Jadi kalau kalian nitip sesuatu ke teman ada baiknya semua informasi yang diperlukan itu sudah kalian kumpulkan. Barangnya apa sampai merek dan tipenya, tokonya di mana dan harganya berapa. Yang saya dapat setelah tek-tokan beberapa kali hanyalah gitar klasik Matsuoka M75.

Untungnya beberapa malam sebelumnya sewaktu kelayapan di Kawaramachi saya sempat melihat ada toko musik. Sialnya waktu kami samperin kesana, saya disorientasi dan tidak menemukan toko tersebut. Hehehehe, memanfaatkan teknologi (ingat pocket LTE router yang saya sewa di postingan sebelumnya) saya dapat menemukan toko musik lainnya yang jauh lebih gede dan lebih lengkap. Sayang lokasinya agak jauh dari halte bus. Jadilah ditengah hujan kami jalan kaki nyamperin toko musik bernama Watanabe itu.

Toko Musik Watanabe, KYOTO

Toko Musik Watanabe, KYOTO

Satu lagi, you have my number so just call me or sms/whatsapp/line me. Facebook Msg is not helping terlebih kalau balasnya sekian belas/puluh menit kemudian.

Akhirnya setelah menggigil kedinginan di pinggir jalan nungguin konfirmasi yang ga kunjung datang, kami memutuskan pulang sajalah. Helpless kalo gini caranya. Padahal Matsuokanya lagi ada diskon gede dan sudah termasuk hardcase. Yah, maybe next time…

Dari sini kami langsung menuju Kyoto Stasion untuk mencari oleh-oleh khas Kyoto. In Japan, souvenirs were born to be eaten. And in Kyoto the choice of edible souvenirs is staggering. There’s creamy green tea pudding, sesame flavored cookies, and innumerable pickles and dried fish. I dont wanna go to iSetan up there but we have Porta and many other shops down here.

Nah suvenir tadi berupa yatsuhashiKue yang terbuat dari tepung beras ini aslinya mempunyai rasa kayu manis (cinnamon), namun kini variasinya kini macam-macam. Ada green tea, wijen, ogura (kacang merah) dan masih banyak lagi. Jadilah saya beli paket rasa kayu manis + green tea + wijen + ogura. Buset deh, 5 bungkus yatsuhashi doang beratnya kok kayanya dah lebih dari 2kg sendiri yah? 😛

ngebungkus 2 paket sushi untuk sarapan esok hari :)

ngebungkus 2 paket sushi untuk sarapan esok hari 🙂

[Travel] Kyoto – Toji Temple

Nyaris lupa waktu di Fushimi Inari, kami memutuskan untuk mengunjungi Kuil Toji. Kuil ini didirikan tidak lama setelah ibukota kekaisaran pindah ke Kyoto di akhir tahun 700an. Letak kuil ini cukup dekat dari Kyoto Station, sekitar 15 menit jalan kaki. Kalau naik kereta cukup 2 menit menggunakan Kintetsu Kyoto Line turun di stasiun Toji. Cuman 1 stop dari Kyoto Station 🙂

Seperti Kinkaku-ji, kuil ini juga mengalami sejarah yang cukup menyedihkan. Sekitar tahu 1486, kompleks kuil ini mengalami kebakaran hebat. Banyak bangunan yang terbakar. Bangunan utama kuil Toji yang disebut sebagai Aula Kondo adalah salah satu yang terbakar. Namun bangunan ini direkonstruksi ulang pada jaman Edo (1603 – 1867). Tepat di samping Aula Kondo terdapat Kodo Hall yang didirikan oleh Kobo Daishi tahun 825.

Continue reading

(Traveling) Kyoto – Fushimi Inari Taisha

Deretan torii (gerbang) merah yang mengular di lereng Gunung Inari seakan sudah menjadi ikon kota Kyoto. Susunannnya yang rapi serta warnanya yang merah mentereng memberikan kepuasan visual tersendiri bagi para pengunjung dan membuat mereka lupa kalau butuh kurang lebih 2.5 jam untuk menyusuri jalur torii merah ini. Susunan torii merah ini hanya ada di Kyoto, tidak ada di tempat lain di Jepang apalagi di dunia.

Kuil Fushimi Inari ini jauh lebih tua umurnya dari Kyoto sendiri lho. Keduanya menjadi bagian sejarah yang tak terpisahkan. Ibukota Jepang pindah ke Kyoto kurang lebih tahun 794. Sementara Fushimi Inari Taisha dibangun sekitar tahun 711.

Kuil ini didirikan untuk memuja dewa Inari, dewa padi di agama Shinto. Dan di area gunung ini kamu akan banyak menemukan patung rubah. Rubah (kitsune) dianggap sebagai hewan suci karena dia adalah utusan pembawa pesan dari Dewa Inari.

Tiap torii yang ada adalah sumbangan dari para dermawan ataupun pedagang karena Dewa Inari juga dipandang sebagai pelindung bisnis/perdagangan serta pertanian. Makanya di setiap torii ini kita akan menjumpai nama si penyumbang dan jenis usahanya (kalo bisa baca huruf kanji yah :P)

Di bagian paling depan kompleks kuil ini berdiri sebuah gerbang yang disebut sebagai Gerbang Romon. gerbang ini adalah sumbangan dari Toyotomi Hideyoshi pada tahun 1589. Yang belum tahu Hideyoshi silakan baca novel sejarah Taiko Ki-nya Eiji Yoshikawa yah 🙂

Romon Gate, sumbangan Toyotomi Hideyoshi

Romon Gate, sumbangan Toyotomi Hideyoshi

Fushimi Inari juga semakin dikenal luas karena dijadikan salah satu lokasi adegan film Memoirs of a Geisha yang dibintangi oleh Michelle Yeoh, Ken Watanabe dan Zhang Ziyi.

Di luar kompleks kuil berjajar deretan toko suvenir maupun warung/rumah makan dengan beraneka ragam menu. Jadi jangan kuatir kalo ingin makan atau mencari oleh-oleh.

Ah satu lagi, Fushimi Inari Taisha ini buka 24 jam dan tidak ada biaya masuknya tidak seperti kuil-kuil lain yang mengenakan biaya masuk antara JPY 500 – JPY 800/orang. Cuman suasananya agak-agak gimana gitu kalo kita kelayapan menyusuri deretan torii merah itu selepas matahari terbenam 😛

(Traveling) Kyoto – Kinkakuji

Kalau kemarin kami mengunjungi Pavilion Perak, hari ini kami mengunjungi Pavilion Emas, Kinkaku-ji.

Nama resmi kuil ini adalah Rokuonji, awalnya merupakan tempat peristirahatan shogun Ashikaga Yoshimitsu. Berdasarkan wasiatnya saat meninggal sekitar tahun 1408, pavilion ini kemudian diubah menjadi kuil Zen aliran Rinzai.

Kinkaku-ji sendiri adalah bangunan yang indah berbalut warna emas. Tampak kokoh menghadap kolam yang tenang di depannya. Dan yang mungkin menyedihkan, Kinkaku-ji adalah satu-satunya bangunan asli yang masih berdiri dari kompleks peristirahatan Yoshimitsu. Selain karena bencana, kompleks kuil inipun telah berkali-kali hancur akibat perang. Yang mungkin paling di kenal adalah saat Perang Onin yang menghancurkan sebagain besar Kyoto saat itu. Dan yang terakhir sekitar tahun 1955 saat Kinkaku-ji dibakar oleh biarawan muda bernama Hayashi Yoken.

Kinkaku-ji in a postcard 1950. Courtesy of harwelldesu.com

Kinkaku-ji in a postcard 1950. Courtesy of harwelldesu.com

Kinkaku-ji setelah dibakar tahun 1950 -wikipedia-

Pemerintah Jepang membutuhkan waktu hampir 5 tahun untuk menyelesaikan restorasi Kinkaku-ji. Pada tahun 1955, The Golden Pavilion pun dapat kembali mewujud seperti bentuknya saat ini.

Bangunan utama Kinkaku-ji terdiri dari 3 lantai yang dibangun dengan gaya yang berbeda. Pada postingan sebelumnya saya menuliskan kalau Kinkakuji merupakan poros budaya Kitayama. Pada jaman Yoshimitsu, budaya ini lebih berkembang di lingkaran kalangan elite/borjuis Kyoto saat itu.

Lantai 1 dibangun dengan gaya Shinden yang biasa digunakan untuk membangun istana pada Jaman Heian (yak, yang ngikutin Shanou Yoshitsune pasti kenal jaman ini :P). Ciri khasnya adalah pilar-pilar kayu natural dengan tembok putih. Bangunan lantai dasar ini nampak kontras sekali dengan 2 lantai di atasnya yang berlapis warna emas. Lantai 2 bergaya Bukke yang biasa terdapat di rumah-rumah samurai. Lantai 3 bergaya aula Zen China.

Ada berbagai patung di setiap lantainya. Sayangnya Kinkaku-ji rupanya tidak terbuka buat umum (paling ngga hari itu) jadi kami tidak bisa melihat-lihat isi dalamnya. Di lantai 1 ada patung shogun Yoshimitsu dan Shaka Buddha (sejarah Buddha). Di lantai 2 terdapat patung Kannon Bodhisattva yang dikelilingi oleh 4 Raja Langit.

Saya cuman bisa bengong. Melihat obyek sejarah dengan mata kepala sendiri itu memang beda…

Perlu diingat, kompleks kuil ini gede banget lho 🙂 Walau bangunan asli hanya tersisa satu, tapi taman yang berada di dekat Kinkaku-ji ini adalah taman yang sama sejak jaman Yoshimitsu dulu. Paling ga desain tamannya tidak pernah diubah.

Wow!

Banyak spot-spot menarik di taman ini. Salah satunya adalah kolam Anmintaku yang katanya tidak akan pernah kering, juga ada semacam patung tempat orang melemparkan koin keberuntungan.

Duh suasananya yang tenang, damai kayanya membuat saya pingin menghabiskan umur di sini deh 🙂

Di ujung taman kita akan menjumpai toko suvenir kecil, kemudian Tea Garden. Cukup rogoh kocek JPY 500 buat menikmati matcha atau jajanan lainnya di taman ini 😛 Dan terakhir adalah Fudo Hall, kuil kecil tempat patung Fudo Myoo diletakkan. Di sini kamu juga bisa membeli ramalan dari kotak-kotak merah seperti foto berikut. Modalnya cukup 1 koin JPY 100 saja. Kalau ramalannya bagus, kertasnya bisa kamu bawa pulang. Kalau tidak bagus, bisa diikat di tempat yang telah disediakan di dekat kuil.

Jangan kuatir, ada yang versi romanji berbahasa inggris kok 🙂

Salah satu alasan mengapa saya lebih suka menghabiskan waktu di satu tempat dari pada lompat dari satu kota ke kota lain adalah i lost track of time. Cuaca hari itu cerah sekali walau anginnya cukup dingin. Dan ga berasa kami sudah lebih dari setengah hari menghabiskan waktu di Kinkaku-ji saja.

Tujuan berikutnya adalah Kyoto Manga Museum. Saya hampir ga sempat memotret di Manga Museum. Yah selain didalam museum emang ga boleh motret, kami heboh sendiri dengan koleksi manga di gedung 3 lantai ini yang buanyak banget. Manga tertua yang saya temui diterbitkan sekitar akhir tahun 40an lho. Ada juga Manga alih bahasa dari negara lain termasuk Doraemon versi Bahasa Indonesia.

Dan betapa bahagianya sewaktu di sini saya menemukan Danbo edisi baru yang belum pernah saya lihat sebelumnya. Edisi Calbee 🙂

Welcome to the family

Welcome to the family

Sehabis dari Manga Museum, kami blusukan di Kawaramachi untuk mencari makan malam. Ga sengaja nemu warung sushi, ya udah kami langsung masuk saja. Tau-tau sudah 16 apa 17 piring sushi tergeletak di meja 😛 Ahahahaha, ternyata warung yang bernama Sushi no Mushashi ini masuk rekomendasi TripAdvisory juga lho. Harganya juga terjangkau (masih mahalan sushi-tei or sushigroove btw :P)

oh, ini masih porsi pembukaan :)

oh, ini masih porsi pembukaan 🙂

(Traveling) Kyoto – Ginkakuji – Issen Yoshoku

Hari ke-3 ini kami mengunjungi salah satu kuil tujuan utama wisatawan Kyoto. Namanya Ginkakuji, Paviliun Perak.

Mengapa dinamakan demikian?

Ginkakuji adalah sebuah kuil Zen yang berada di sebelah timur Kyoto -daerah Higashiyama-. Shogun Ashikaga (1435-1490) mendirikan paviliun peristirahatan untuk masa pensiunnya di daerah ini pada tahun 1482. Paviliun tersebut terinspirasi oleh Kinkakuji (Paviliun Emas, di daerah Kitayama) yang dibangun oleh kakeknya sendiri. Namun sepeninggal Yoshimasa pada tahun 1490, paviliun itupun kemudian diubah menjadi sebuah kuil Zen.

Sama halnya dengan Kinkakuji yang berada di daerah utara Kyoto, Ginkakuji di timur juga menjadi pusat kebudayaan pada saat itu. Bedanya adalah kalau di Kinkakuji budayanya lebih terbatas untuk kalangan elit, aristrokat/pejabat. Sementara itu budaya Ginkakuji justru lebih membumi dan mempunyai peran yang luas pada budaya Jepang sendiri kala itu. Keseian yang ada saat itu makin berkembang mulai dari arsitektur, puisi, teater hingga upacara minum teh.

Walaupun dikenal orang dengan nama Ginkakuji, nama kuilnya sendiri aslinya adalah Jisho-in (kemudian diubah menjadi Jisho-ji). Berbeda dengan Kinkakuji yang memang bernuansa emas, kamu bisa dibilang ga akan menemukan sesuatu berwarna perak yang cukup signifikan biar nyambung dengan julukan Vila Perak Ginkakuji 🙂 Shogun Ashikaga dulu sepertinya memang berniat melapisi paviliun ini dengan warna perak, namun sayang keinginan tersebut sepertinya tidak pernah terlaksana.

Ginkakuji, The Silver Pavillion... eh mana warna peraknya?

Ginkakuji, The Silver Pavillion… eh mana warna peraknya?

 

Hamparan pasir putih di depan Rara pada foto di bawah ini adalah tipikal Zen Garden yang tertata indah dengan pola pasir yang rapi. Taman pasir ini disebut sebagai “Sea of Silver Sand“, lautan pasir putih.

kyoto_20140310091025_3058_x100s

Rara, still excited playing with the snow

Nah sedangkan tonggak di bawah ini (bentuknya mirip tumpeng/cone dengan ujung atas dipotong :P) disebut sebagai Moon Viewing Platform, tempat memandang bulan.

kyoto_20140310090807_3049_x100s

Moon Viewing Platform

Nah kalau kalian berkesempatan berkunjung ke sini di cuaca yang tepat, maka cukup dengan berjalan kaki kamu dapat menikmati berbagai situs sejarah dan pemandangan yang spektakuler.

Di mulai dari bagian paling atas dimana Kuil Ginkakuji terletak, kamu bisa menyusuri Shirakawa Sosui Dori. Sekedar window shoping atau sekedar mencari camilan/makan siang. Setelah itu dilanjutkan berjalan kaki menyusuri Philosopher’s Path atau kadang disebut juga sebagai Philosopher’s Walk.

Philosopher’s Path atau Tetsugaku-no-michi adalah sebuah jalanan kecil yang membentang menyusuri sungai dari Ginkakuji turun hingga ke Kuil Nanzen-ji yang kompleksnya guede banget serta Eikan-do Zenrin-ji yang lebih kecil. Tapi jangan salah, pemandangan sepanjang pinggir sungai ini emang indah. Apalagi kalo pas musim sakura mekar atau menjelang musim gugur nanti. Di sepanjang jalur ini banyak vending machine, toko/kafe kecil dan juga kuil-kuil kecil.

Wahhh, jadi pingin ke Kyoto lagi.

Saya sudah menyinggung soal “cuaca yang tepat” kan sebelumnya? Saya bilang begitu karena seharian ini kami bisa dibilang kenyang makan salju. Begitu tiba di Ginkakuji disambut hujan salju yang cukup deras, untungnya tidak lama. Yah stop-and-go sih saljunya. Alhamdulillah selama jalan kaki menyusuri Philosopher’s Path cerah sekali. Tapi begitu di Eikan-do cuaca mulai meredup. Kami tidak bisa berlama-lama di sana dan memutuskan untuk segera pergi begitu langit makin gelap dan salju mulai turun lagi.

Kali ini ga sekedar showering tapi bonus angin. Jadilah kami sedikit merasakan badai salju level 1 di Jepang. Payung (cuman 1, dituker orang pula) dah beralih fungsi jadi perisai. Setelah lumayan lama mencari rute ke jalan raya (sambil berusaha menjaga agar iPad tidak basah) + menggigil kedinginan akhirnya kami menemukan halte bus.

Niat sebelumnya ingin mengunjungi Kiyomizu-dera serta klayapan di Higashiyama. Tapi kami memutuskan untuk sementara cukup sudah bermain salju hari itu. Jadi rute selanjutnya maen ke ‘kota’ saja. Haripun beranjak gelap saat kami turun di Gion.

Waaa, wajah lain Kyoto saat menyusuri Shijo-Kawaramachi. Di ujung Shijo ada bangunan kuno mentereng, Yasaka Shrine dan kompleks kuil yang sangat besar. Saya tau di sana ada Kodai-ji, Kuil Chorakuji tapi entah apa lagi di dalamnya. Sementara itu sepenjang mata memandang dari gerbang Yasaka ke depan yang ada adalah deretan toko serta mal.

Kontras sekali. Tapi hal ini menunjukkan kalo di Kyoto itu “past and present can get along side-by-side in harmony.

Langsung deh semangat mau blusukan masuk-masuk dan menyusuri lorong-lorong Gion. Hehehehehe, jadi terbayang Kyoto jaman dulu hasil visualisasi buku-buku Eiji Yoshikawa. Tapi karena Rara sudah ga kuat jalan plus baru berasa kalo kita kelaparan *gara-gara lewat depan tukang takoyaki yang enak banget aromanya- petualangan hari itu kita akhiri dengan berburu makanan khas Kyoto saja.

Dan menurut tripadvisory serta Lonely Planet si Rara, rekomendasi tempat makan yang dekat dengan posisi kita saat itu adalah warung Okonomiyaki Isshen Yoshoku. Warung ini cuma menjual 1 menu saja. Seporsi harganya kalau ga salah JPY 650.

Okonomi means “what you like”  and yaki means “grilled” or “cooked”; So, Okonomiyaki means “cook what you like”. In our case it was cabbage, bits of fried batter, eggs and red pickled ginger are mixed with a wheat flour batter and pan fry on a hotplate. The result resembles something like pizza + okonomiyaki sauce and nori.

Rasanya? Totemo oishii desu…

When you’re in Kyoto, you-have-to-try-this-okonomiyaki! Issen Yoshoku is a local legend.

kansaitrip_20140310224839_00411_lgg2

oleh-oleh yang kami beli di Ginkakuji, warabi mochi. Something made with green tea 🙂

kyoto_20140310205035_3327_x100s

Yaa, they’re excited to get to know what is inside and how good the taste will be

kyoto_20140310205301_3329_x100s

and what the heck are you doing inside, Danbo?!!! You eat the cake already?!!

(Traveling) Kyoto – Day 2

kansaitrip_20140309071837_0577_x100s

need info, book a bus, rent mobile device?

kansaitrip_20140309071801_0576_x100s

very nice airport

kansaitrip_20140309071951_0581_x100s

lot of booklet to read in some languages

Setelah terlelap cukup lama di KIX, bangun-bangun kayanya jam 7an 😛 langsung deh cari tempat shower yang kebetulan ada di lounge dekat-dekat situ. Sayangnya dah penuh, kecuali kita mo nunggu 2 jam sampe mereka kelar. Arrrghhh, lom mandi neh seharian.

Ya wis lah, kami memutuskan cuci muka gosok gigi doang di restroom dan langsung mencari bis bandara yang menuju Kyoto. Sebenarnya kalau mau cepat bisa naik kereta Haruka dari T2, tapi harganya bisa JPY 3500++/orang. Sementara kalau naik bisa cuman JPY 2500/orang one way atau JPY 4000 rountrip. Waktu tempuh dengan bis kurang lebih 1.5 jam. Halte busnya ada di exit T1, halte nomor 8

Sekitar jam 9:30 an kami tiba di Kyoto. Cuaca saat itu cerah sekali, tapi duinginnnnn bangettt. Tempat pemberhentian bis nya tepat di seberang JR Kyoto Station, di depan Hotel Avanti.

Tujuan selanjutnya adalah mencari Hana Hostel, tempat kami akan tinggal. Lokasinya sih menurut peta ada di balik Kyoto Station, jadilah pagi itu kami -sambil menikmati segarnya udara Kyoto- menjelajah stasiun gede ini. (tepatnya sih rada-rada nyasar nyari jalan ke arah Central Gate :P)

Seperti yang dijelaskan di situs Hana Hostel, it is 5 min walk from JR Kyoto station (if you walk like a Japanese :p) Strategis dan nyaman banget tempatnya. Paket modem sewaan saya sudah tersedia di resepsionis. Walau check in timenya jam 3 sore dan kami datang terlalu awal, kami masih bisa nyantai-nyantai di living room, mandi-mandi, serta nitipin ransel di luggage room yang memang telah disediakan.

Jadi seharian ini saya dan Rara emang ngabisin waktu ngider-ngider seputaran Kyoto Station saja dulu. Tujuan lainnya adalah nyari restoran Kyo-ryori rekomendasi pasien Rara yang dari Jepang.

Apa itu Kyo-ryori?

Kyo-ryori = Kyoto ryori = Masakan Kyoto.
Jadi katanya di Kyoto itu ada 3 makanan yang dianggap “wah” yaitu masakan Perancis, Cina dan Jepang. Di antara ketiganya, Kyo-ryori adalah best of the best karena keindahan penampilannya, cita rasanya yang mantap. And it is.

Setelah gempor naik tangga yang curam banget di Kyoto Station, plus kedinginan karena angin yang cukup kencang, antrian di toilet, akhirnya ketemu juga restoran yang di maksud. Namanya Wakuden. Tampang turis kami yang kayanya bloon banget berusaha nerjemahin huruf kanji tapi helpless big time menarik rasa kasihan sepasang pengunjung Wakuden yang tengah antri. Dengan kemampuan bahasa kami yang pas-pasan (maksudnya saya ma rara jepangnya minus, beliau berdua Inggrisnya juga kurang) akhirnya kami mengerti juga. Jadi restoran akan tutup 30 menit lagi, sementara menu yang paling laris (saya lupa namanya) hanya disajikan 30 porsi saja/hari dan mereka adalah orang ke 30 itu.

Mbak pelayan di dalam juga menjelaskan hal yang sama (aaaaa, kawaii nee-chan ^_^) but that’s ok. Jadi kami memilih menu nomor 2, and we’ll see what we will get. 5 set makanan (plus 1 shot sake) yang enak-enakkkkkkkkkkkkk. Pas bayar ajah yang ga enak 😛 Well it’s worth the money.

Selain Kyoto Station, kami dah nyobain masuk ke Kyoto-Yodobashi. Yah, ini emang mall. Kebetulan saya butuh neck warmer. Dan baru tau kalo selama ini si Rara emang pingin banget punya boot. Kocak liat tampangnya ala Sinchan pas ada sale boot di Yodobashi ^_^. So she got her self a pair of japanese boot yang emang pas dengan dinginnya cuaca saat itu.

Kami juga masuk ke Bic Camera, karena ada teman fotografer yang nitip film kamera hitam putih. Nah buat yang doyan gadget, elektronik, kamera, game saya sangat-sangat menganjurkan kalian untuk jauh-jauh dari 2 tempat ini selama di Kyoto yah 🙂 Saya sih nyantai-nyantai saja karena bukan gadget freak. Hilang akal hampir terjadi beberapa hari kemudian pas ke Yodobashi lagi dan masuk ke lantai 3. Heaven for kid soul in me, hell for my pocket.

Tamiya yang harganya cuman JPY 600, BatMobile versi Dark Knight maupun Bane, berbagai Gundam (yg harganya emang murah bgt), perkakas hobby super lengkap yang ga nemu di sini, arrrghhhhhh.

Udah-udah, get the hell out of there. Dan godaan kembali ke lantai 3 itu emang siksaan secara rute pulang pergi Hana Hostel – Kyoto Station pasti ngelewatin Yodobashi.

Satu hal yang kami sesalkan serta yang baru kami sadari di 2 hari terakhir adalah lokasi Hana Hostel ini ga jauh-jauh amat juga dari spot-spot bersejarah. Kalau mau ngirit waktu dan duit cukup jalan kaki atau nyewa sepeda trus berkeliling ajah seputaran hostel. Lain kali kalau punya rejeki dan kesempatan ke Kyoto lagi, hal ini yang akan saya lakukan.